Showing posts with label kejuaraan. Show all posts
Showing posts with label kejuaraan. Show all posts

Tuesday, July 12, 2011

citarum arithmetic

Suatu hari saya teringat kejadian dulu ketika saya masih SMA dan hampir tiap hari rutin main sama kucing kesayangan saya, O’o namanya. Ketika sore, kami akan main –awalnya- kejar-kejaran yang akhirnya jadi run championship. Kami berdua selalu sehat di sore hari jadi perlombaan ini akan terus berlangsung selama kami bisa bertemu di sore hari. O’o mengikuti saya kemana pun, termasuk sampe kamar mandi (dia nunggu di depan pintu tapi). Nah pas saya naik tangga sambil berlari kecil, O’o mengikuti juga dengan berlari kecil. Terlintas pikiran pingin saya kerjain ni kucing nakal, akhirnya saya turun tangga dengan kecepatan tinggi, super tinggi. O’o pun ga mau kalah! Dia berlari cepet, secepet motor metik di jalanan flat, cepeeeet banget. Tapi saya masih juara karena kadang dia berhenti tiba-tiba seolah teringat pada sesuatu yang terlupakan lalu kembali berlari. Tanpa pikir lagi saya mulai lari-lari ke belakang, ke depan, masuk kamar mama, naik kasur turun kasur, ke halaman, masuk lagi, lalu tiba-tiba berhenti di depan tv. Begitupun O’o. Dia mengejar saya tapi larinya kali ini lebih cepet. Pake ngepot-ngepot segala malah. Meskipun sempet kepeleset di halaman depan tapi tetep dia bisa ngejar. Saya ngos-ngosan dan istirahat sebentar. Si kucing ganteng itu hanya duduk biasa di samping saya seolah menunggu dan berkata “ayo lari lagi doong!”. Saya memberikan ikan pindang satu biji tanpa nasi sebagai hadiah kala itu, sebagai tanda terima kasih juga karena berkat dia saya bisa membakar kalori.

Saya pun tersenyum di tengah ngantuk mengenang kisah luar biasa itu. Kucing rumahan yang hanya bisa pergi maksimal 5 meter dari rumah dan ketika saya menetap di Yogyakarta untuk kuliah, dia ga punya temen dan akhirnya di rumah kerjaannya cuma makan, mandi, tidur. Tapi bukan O’o yang pingin saya ceritain disini, melainkan rasa kompetisi yang ternyata seekor kucing peliharaan pun punya itu.


”Oh begini toh rasanya lomba.”


Bulan Juli lalu saya mengikuti lomba arung jeram bertajuk “Citarum Open 2010” di Cianjur, Jawa Barat, dengan tim putri dari Mendut Rafting, sebuah tim yang baru buat saya. Kami mendaftar untuk kelas putri dengan pesaing lainnya dari Mapala UI, Madawirna, Kapinis, sama apa lagi gitu saya lupa. Untuk kelas yang cowok-cowok terbagi jadi beberapa kelas, saya ga hapal. Pesertanya ada 45 tim dan mayoritas berasal dari Jawa Barat, sebut aja ada Kapinis, Indonesia Power, Up Stream, Mahacita UPI, UKM PA Gerhana, dan lain sebagainya. Ada juga tim TNI/Polri yang ikut, kaya Delta SAT II Pelopor, Brimob Jabar, sama Walet. Tapi tim yang paling banyak terdaftar adalah tim pelajar/mahasiswa, ada sekitar 23 tim yang daftar ke kelas itu. Walaupun di bagi di kelas-kelas ordo seperti itu, perlombaan ga dibagi per kelas. Jadi semua sesuai nomer urut. Maka dari itu persaingan putri lawan putra pun ga bisa di hindari.

Perlombaan pertama sprint. Tim yang masuk rangking 16 besar catatan waktu tercepat berhak ikut lomba head to head, sisanya berhak menjadi penonton. Sayang sekali tim saya mendapat urutan ke 19, jadinya cuman jadi observer di pinggir sungai. Tapi yang bikin sebel, tim putri berhasil masuk ke rangking 17 yang bikin mereka secara otomatis –tanpa perlu bertanding- memenangkan juara satu lomba head to head kelas putri. Sayang sekali untuk kelas putri yang jumlah pesertanya memang sedikit, yang dicari hanya juara satu. Arus liar menduduki posisi pertama untuk kategori lomba ini.


Not so big Citarum at 8 around


Setiap malam akan ada briefing dari panitia untuk lomba di esok harinya. Dan besok adalah lomba down river race. Manajer kami, Mas Dhangku, mem-briefing kami malam itu dan saya menjadi gugup luar biasa, luar biasa gugup, gugup biasa luar, ah terserah kau menyebutnya apa!

Gugup.

Ah gimana ngegambarinnya ya.

Saya jadi diam. Muka tegang kaya mau terjun payung, padahal saya belum pernah terjun payung. Kaya ujian? Saya tenang pas ujian. Kaya pas saya kehilangan dompet, nah, itu! Kaya pas kehilangn dompet (tapi akhirnya ketemu).

Saya meng-SMS dua orang teman, menyatakan bahwa saya sedang gundah setengah mati. Lalu Mas Anta menelepon. Memberikan kata-kata terbaiknya. Memberikan support yang luar biasa. Ah saya sampe nangis pas ngadu kalo saya gugup! Selesai Mas Anta nelpon, saya masih gugup. Malam itu saya juga SMS-an sama Bebek, dia seorang yang sangat ahli dalam memberi semangat soal beginian. Masih. Masih gugup! Gimana niiiiihh!?

Besok DRR. Dan pasti kita akan adu cepat sama tim putra yang lain. Kalo ga bisa nyalip gimana? Kalo kepepet gimana? Kalo ditabrak gimana? Kalo nyemplung gimana? Kalo mau pipis gimana? AAA! Semua yang jelek-jelek keluar malam itu. Kami akan melawan lelaki-lelaki bertubuh kekar dan tenaga yang kaya kuli.

“Ma, telpon Utin dong sekarang.”

Setelah semenit ngirim SMS, Mama nelpon. Saya bercerita semua yang saya rasakan. Lalu Mama mengeluarkan lelucon anehnya yang ga mutu, namun membuat saya lebih baik saat itu. Banyolan khas si pantat besar itu emang ga ada duanya. Lalu mama nyuruh solat, berdoa, ngobrol sama yang lain, dan tidur. Akhirnya saya memilih alternatif terakhir: tidur. Mama mengirim SMS yang isinya doa supaya diberi ketenangan. Saya membacanya sebelum tidur. Membacakannya juga untuk teman-teman saya yang udah terlelap duluan.


Left to right: Cancut, Evie, Greya, Lelly, Justin, Lukvi, Ariel.

Pagi cerah sekali. Cerah. Langitnya biru, awannya putih, sungai Citarum masih bau dan arusnya stabil. SMS Bebek pagi itu menjadi penyemangat tambahan. Sedih juga ternyata temen-temen yang biasa ngarung sama saya –tim Palapsi- ga ada yang SMS ngasih semangat, ngasih dukungan, atau pun sekedar nanya kabar. Mereka sibuk kali ya. Yaudahlah. Saya scouting sama yang lain. Berdoa bersama. Berpelukan. Saling menepuk pundak dan meyakinkan satu sama lain kalo kita bisa. Pasti bisa!

Setiap kloter DRR ada 4 tim, dan tim putri saya akan balapan sama 3 tim putra dari Arkadia, Bahari, sama Krakatau (kalo ga salah inget ya). Tegang! Sangat! Terharu banget banyak juga penonton yang mendukung kami saat itu. Apa lagi tim putra Mendut Rafting sama FAJY. Mereka luar biasa. Sumpah!

Aba-aba di mulai.

“Dayung di atas air. Bersiap semuanya. Tiga. Dua. Satu. GO!”

Saya yang ber-partner sama Ariel di depan berusaha mengarahkan perahu supaya ga ndempet-ndempet yang lain, lalu Greya sama Lukvi di tengah menyuplai tenaga dan semangat, dan Evie sama Lelly sebagai skipper mengkapteni kami. Menempati posisi ke dua setelah Arkadia dan meninggalkan dua tim lain di belakang. Ini adalah saat yang sangat dramatis –menurut saya. Kami mendayung sekuat tenaga tanpa henti. Entah dateng darimana tenaga sebanyak itu, rasanya hanya semangat satu-satunya alasan yang bisa menjelaskan. Di jeram masih enak banget dayungnya, tapi karakter sungai Citarum ternyata menyebalkan juga. Jeram cuma ada sekitar 4 kilo, tapi flat-nyaaaaaaa ada kali 6 kilo dan bener-bener datar, tanpa riak tanpa arus. Ampun ampun!

Dua kali kami berhasil nyalip Arkadia, tapi tetep abis itu disalip lagi. Semua awak perahu jadi bawel, cerewet, kecuali Greya. Dia terlihat kelelahan teramat sangat. Ini yang dramatis. Secapek apapun kami, menyemangati temen sendiri ga boleh berenti.

“Kalahin Mapala UI. Masa mau kalah lagi!?”

“Ah ini Arkadia cemeeeen! Kita wanita kuat!”

“Makanya jangan udad udud wae!”

“Ayoooo conelllooooooo!”

“Justin, are you oke?”

“Greyaaaa, ayo paksaaa.”

“Iki flat-e sialan tenan, cah!

“Ayooo dayung sampe begoooo!”

Dan sebagainya. Saya merasa terharu dan bersemangat secara bersamaan. Tim ini luar biasa. Hal lain yang paling menarik dari perlombaan selain kompetisi adalah kerjasama tim. Saya ga tau kalo ternyata tim in begitu hebat. Menjadi urutan kedua terus sampe finish memberi kepuasan berarti buat kami. Luar biasa. Ini adalah pencapaian yang luar biasa, buat kami, dan buat saya. Bersalaman dengan tim yang lain dan mereka mengakui kami. Wow. Saya capek. Saya lapaaaaaar!

“Aaaaaaaahhh!”

Teriak apa lagi nih? Wah. Ternyata kami kalah lagi sama Mapala UI. Beda tujuh detik berarti juga ternyata. Ah sial sial. Batal deh dapet mandi air panas. Udah dayung kalah mahal, baju kalah ngejreng, ini juga kalah! Grrrrrr.

Malam itu pun saya kembali gugup. Gimana nggak, saya besok jadi skipper sama Ariel dalam lomba slalom. Saya belom banyak pengalaman sebagai skipper, saya panikan, ah aduh. Bebek nelpon untuk ngasih tips en trik slalom. Tetep aja saya jadi pusing ujung-ujungnya. Keceriaan tim saya pun jadi obat termanjur malam itu. Setelah briefing saya langsung tidur. Dan anehnya, saya mimpi lagi slalom! Aaaah apa ini apa ini! Mamaaaaah!

Lagi-lagi pagi begitu cerah. Memulai hari dengan jogging dan jalan-jalan sama yang lain bikin kepanikan saya musnah. Saya mulai optimis. Lalu kami scouting mem-plot jalur dan menggambarnya di jurnal saya. Berbincang ini itu, menanyakan pendapat orang-orang, memelototi jalur rancangan, memperhitungkan air yang saat itu lagi pelan, semuanya masuk dalam otak. Yap. Ariel semangat, Evie semangat, Lelly semangat, Lukvi semangat, Cancut juga (dia menggantikan Greya). Dengan begitu Justin juga harus semangat. Kami pun mulai.

Before facing the gates, start-nya slalom.

Oh no! Airnya naik, arusnya jadi lebih cepet. Krrrrr. Saya jadi puyeng. Ini Citarum minta di ketekin apa ya. Banyak gate yang gagal, berhasil cuma 2 apa ya. Ada dua gate yang gagal gara-gara kepala saya di luar. Bodoh super ini mah. Perhitungan di awal gagal semua. Namun semestinya kita semua tau kalo arung jeram memang penuh ketidakpastian. Ini lah buktinya.

Yang ini dramatis juga nih.

Saya sempat disalahkan. Beberapa nangis. Saya memang merasa bersalah, ini pengarungan yang sangat buruk. Tapi kalo pun sedih saya ga mau nangis. Untuk apa? Nangis ga akan mengubah hasilnya. Dan saya meyakini paham kalo arung jeram itu full main tim, bukan sendiri-sendiri. Maka inilah hasil kita, bukan hasil saya atau Ariel. Beruntung saya punya tim yang kuat, meskipun ada juga yang lemah dan menangisi penuh emosi. Kekalahan yang bodoh memang, tapi ini jelas memberi banyak pelajaran mengenai slalom, mengenai bagaimana memprediksikan segala sesuatunya dengan matang, dan mengatur emosi. Beberapa dari kami pun akhirnya kembali ke bangku penonton menyaksikan yang lain. Terima kasih teman-teman. Kita hebat. For sure. Ayo besok pas latihan slalom lebih serius lagi, lebih berusaha lagi, lebih rajin lagi, practice absolutely makes perfect.

Karena kepepet waktu kami pulang setelah lomba slalom itu selesai. Saya hanya sempet pamitan ke beberapa orang, namun ga semua yang saya kenal. Oh luar biasa saya kenalan sama banyak orang hebat. Saya jadi tau sungai-sungai baru dan membangun link yang baru. Lalu merasakan dinamika yang sungguh berbeda dengan yang biasa saya dapatkan. Kalo saya rangkum, mereka (tim putra putri Mendut Rafting dan FAJY) adala orang-orang yang full-time-supporter , kinda weird, but totally full-time-comedian. Saya mengagumi mereka. Kagum! Mem-videokan kami pas mau turun DRR, menepuk pundak meyakinkan kami sudah berusaha sekuat tenaga ketika tertunduk kecewa setelah slalom, selalu mem-portaging perahu kami, semangat yang tiada henti tercurah padahal mereka juga sedang berkompetisi, mereka juga bersaing sama kami. Kenapa mereka bisa kaya gitu?

Pulang ke Yogyakarta dengan kereta ekonomi. Lalu mendengar kabar dari manajer Dhangku via SMS kalo tim putri saya dapet juara umum II kategori putri. Lah? Bukannya yang dicari juara satu aja? Mungkin karena kita paling keliatan bersaing kali ya. Hahaha. Juara satunya tim Mapala UI. Selamat. Lain kali kami bales. Hehehe. Seneng juga dapet juara. Ini kejuaran arung jeram pertama yang saya ikuti, dan akan selalu membekas di hati. Tim putri dapet penghargaan per-tim dan per-orang, juga dapet uang tunai 500.000 rupiah. Sekarang kami lagi nabung seminggu 20.000 buat bekal pergi liburan bareng ke Cicatih awal Oktober mendatang :)




notes: foto lainnya nyusul :)

australasian on the go

Selasa malam. Haaah. Capek mujarab. Seminggu dari tanggal 20 - 23 April saya main ke Serayu. Lengkap sudah seminggu gak kuliah sama sekali soalnya Senin kan main ke progo bawah. Tambah dua hari kemaren sama hari ini, semoga saya masih bisa ikut UAS ntar. Sabtu jam 10 pagi saya baru nyampe setelah berangkat pulang dari Serayu Adventure jam 6 pagi. Pinginnya ikut acara nanem pohon di Krapyak, tapi ternyata nyampe Jogjanya siang banget, sedangkan sweeper berangkat jam 7 di tambah saya juga ga tau dimana itu Krapyak, jadinya ga jadi ngikut. Siangnya cuci alat sekalian setor muka. Kangen bener orang-orang sama saya, hahaha. Saya yang super kangen sama mereka. Sorenya latihan dayung di Selokan sampe jam 7 PM, pulang kost langsung tepar.


Penikmat


Sedih banget mesti pulang hari Sabtu padahal lomba rafting-nya baru hari Sabtu sama besok. Susah emang kalo pake mobil pinjeman. Tapi tujuan saya dateng kesana sih selain pingin tambah kenalan dari segala macem penjuru, ketemu orang-orang ajaib, ngeliat lomba arung jeram, saya juga pingin liat kayak -entah eksibisinya, entah atletnya, entah kayaknya-. Sebenernya itu tujuan utamanya, kayak! Dan saya berhasil. Hehehe.I met a lot of awesome kayakers, they were great. I'm an adorer of kayak and kayakers. Selain menangis dalam hati menyesal dulu nyerah main kayak (sial sial siaaall), saya selalu memasang wajah sumringah setiap ketemu kayaker atau ngeliat orang-orang hebat itu main kayak. Sampe-sampe setiap saya lagi merhatiin para kayaker itu beratraksi di sungai dengan muka kaya anak TK dapet gambar bintang di kertas gambarnya, Mas Lamba selalu melambaikan tangannya dadah dadah gitu. Wah ada yang nyadar saya liatin, padahal saya ngeliatin semua kayakernya. Hehehe. Ayo semua kayaker, lambaikan tangan kalian kepadakuuu! :p


Nah, ini mereka, beberapa.


Meskipun namanya Australasian Rafting Champs, buat saya tetep eksibisi kayak yang paling keren. Hehehe. Hari pertama saya langsung ketemu Tirtaseta, sebuah komunitas kayak yang juga punya sekolah kayak. Yang paling saya tunggu-tunggu adalah ketemu Mas Toto, pemilik Tirtaseta. Yeah saya adalah penggemar berat Mas Toto.


Kenapa saya harus memajang foto Mas Toto ya?

Kenalan juga sama temen-temen dari Noars. Mereka operatornya sungai Pekalen loh, kalo mau ke sungai Pekalen bisa hubungi mereka buat tanya-tanya: Mas Nyoman 081336616400 atau 081358932287 (nomer istrinya). Ketemu juga tim Malaysia, Mas Nasir sama Mas Fitri, tim Iran, terus ada akang-akang dari Indonesia Riverboarding Association (ada yang mirip Jimi The Upstairs! Namanya Kang Dukut - ngasih saya kenang-kenangan pin loh :D ), terus ada kayaker-kayaker lama juga kaya Mas Agus Lamba, Mr. Halim, Pak Loddi, Mas Made Brown, dan sebagainya. Eh ada kayaker muda asal California yang sekarang sekolah di Bali loh, ada 3. Sepasang kakak adik namanya Dillon dan Japhy (sebelum tau itu nama bule, panitia dengan toa memanggilnya Japi. Hahaha), dan seorang yang ganteng (campuran cina dikit) namanya Tristan. Bening-bening beneeeer :D


Bebek, kayaker dari Palapsi. ga menang apa-apa, haha :p

Eksibisi kayak ini tujuannya adalah untuk mempertemukan kayaker-kayaker dari berbagai penjuru, sebagai event reuni juga. Terus mau memperkenalan juga ke masyarakat bahwa ada kayak lho di Indonesia. Well, kayak emang belum umum di sini, tapi dengan ngeliat adanya event kaya gini dimana kayaker ngumpul-ngumpul, kita juga jadi tau ternyata kayaker Indonesia tambah banyaak. Saya semakin semakin semakin seneng. Makanya pas Mas Toto minta saya jadi panitia buat eksibisi kayak, saya ga nolak sama sekali. Hehehe.



Saya terus memperhatikan kayak, yang turun sungai khususnya. Saya ngeliat dayung majunya Mas Toto dan temen-temen Tirtaseta yang lain. Gimana mereka bertahan di arus, free styling, kayaker-kayaker yang lain juga, mereka punya keunikan masing-masing. Susah kalo di tulisin. Hahaha. Eksibisi kayak di hari Kamis (yaa bisa dibilang lomba juga sih) punya 3 kriteria yang di nilai, yaitu launching-ngeluncur dari papan setinggi 3 meter,surfing-up stream dan terus bertahan di atas riversal, dan sprint-balepan cepet-cepetan. Pas launching, semua nunjukin gayanya masing-masing, bahkan ada juga yang gayanya standar gitu-gitu aja. Ada Mas Sigit yang pake ngelempar dayung, ada Mr. Halim, Om George, sama Haidar Iran yang ngeluncurnya mundur, Mas Denny dan Mas Made yang pingin muter pas jatoh tapi ga jadi, terus si Japhy (baca yang bener: Jafi) yang jatoh terus agakstanding, yaa macem-macemlah. Tapi si Tristan ga ikutan launching sama surfing, dia sakit. Huhu, sini sayang saya pijitin pake jurus maut, kekekeke. Preeek!

Untuk surfing, abang-abang dari Iran bertahan paling lama. Si Aria sampe 30 detikan, si Haidar malah sampe 40 detikan, busyeeet. Abis itu sprint. Seruu, mereka dayung cepet banget. Untuk yang pake kayak jenis creek, jelas ngerasa gembira tralalala. Hihihi. Karena ini eksebisi, dan yaa seperti yang saya bilang di awal tadi, event kayak ini terlihat sangat friendly. Seru. Setiap kayaker saling mengenal, menyapa, bertukar informasi, bertukar ilmu, bertukar-tukar apapun lah. Yang juara di kayak untuk sprint sama surfing di pegang abang-abang dari Iran. Si Haidar di posisi pertama, Aria kedua. Juara tiga untuk sprint di pegang Mas Abu, di surfing di pegang Mas Supri Noars. Tuh kaan, yang menang yang kayaknya jeniscreek, yang tipe play boat pada susah mau maju cepet. Tapi Mas Toto pulang bawa piala runner up, itu saya ga tau runner up yang mana, tapi pialanya keren. Wayang yang megang dayung adalah ide yang luar biasa. Sebelum kayak, ada lomba riverboarding. Ini juga menarik, sangat!

Ini pertama kalinya saya ketemu, kenalan, dan ngeliat atlet riverboard main di sungai. Sangaaaat kereeen!! Gaya mereka loncat ke air beneran mirip kodok lagi loncat, apalagi pada pake sepatu katak. Tapi mukanya ga ikutan mirip katak tenang aja. Tim Noars, Mas Buaya sama Mas Nyoman, berhasil bawa pulang medali emas sama perunggu, waaaw. Saya sempet mengalungi dua medali keren itu selama beberapa menit. Ah rasanyaa, seperti pecundang :D Wong saya main riverboard aja ga pernah, ini sok-sokan ngalungin medalinya. Hihihi. Congrats yoo mameeen!

Pemain sendal raksasa

Akang-akang dari IRA juga keren. Mereka tu awalnya pemanjat, suka bikin wall climbing juga. Sekarang lagi beralih main riverboard, katanya sih faktor U (usia, haha). Nah mereka jugariverboard-nya bikin sendiri, keren ya. Kang Dukut nawarin kita bahan-bahan buat bikinriverboard, jadi ntar kita tinggal bayar yang bikinin. Asiik. Kita tagih janjinya secepatnya. Hehehe. Itu akang-akang orang Bandung seru-seru deh. Kita juga diajakin main ke Citarik, wow. Banyak janji yang harus ditagih ni. Mantaap! Yang masuk urutan juara buat lomba main sendal raksasa ini ni Mas Buaya, anak Kapinis, Mas Nyoman, Mas Tapir (mukanya mirip suaminya Titi DJ loh), Mas Jabrik, sama Mas Wahyu. Yeaah congrats!!!

Saya :)

Selamaaat. Untuk Riam Jeram katanya menang head to head. Yaa meskipun ada adegan misuh-misuhan sama tim Slovakia, tetep ah keren ni abang-abang mah. Indonesia Raya, Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya!

Hari Minggu saya latihan di sungai Elo. Hari ini adalah Kartini Raft yeeeay. Satu perahu biru, lima perempuan berbaju biru, semangat biru, langit biru, gigi biru, mata biru, berle biru. Hahaha. Posisi perahunya saya yang jadi skipper, pendayung tengah Ambon sama Dyan, pendayung depannya Desti sama Cela, tim rescue-nya para Kartono berempat. Wuah saya kagok banget bawa perahu, udah lama banget saya ga latihan skipper, selalu di pendayung depan. Namanya juga sekarang latihan, jadi banyak jatuh bangunnya. Pendayung depannya yang anak baru semua bikin saya juga dapet manfaat latihan banyaaak banget. Dinamika di perahu awalnya seret, tapi masuk jeram sebelum ringin dinamikanya udah terlihat asik. Abis scouting yang menghasilan keputusan ambil jalur tengah masuk gate terus masuk drop lurus ambil standing wave gede lurus juga, kita turun. Wuah degdegan sumpaaah. Alhamdulillah lancar. Debit air agak tinggi, tapi masih normal. Ketemu sama anak Silvagama juga yang lagi latihan, haloo teman-teman. Pengarungan lancar. Eh yang paling seru, di jeram finish! Hahaha. Saya memutuskan untuk main rodeo. Eeh gara-gara saya masukin perahu ke drop agak miring (ga keliatan eeh), jadinya perahunya berdiri dan kita jatoh semua. Hahaha. Lucu. Seruu. Ngeliat Ambon panik sambil mbetulin sendal. Well, I know it was a big mistake, but saw my paddlers enjoy and feels like "huaa hahaha" its okay maybe. They got a new experience, aren't they? Pulang dengan meninggalkan satu perahu plus dayung, pelampung, sama helm di tempat Mas Rosyid buat dipake besok rescue di Progo, cuci alat, makan malem - I had dinner with only one doughnut, waks!, terus evaluasi, pulang, tiduur. Senin, bangun pagi, nge-SMS dua orang teman yang ulang tahun sama kakak saya juga ulang tahu, mandi, nonton Insert, terus berangkat ke kampus. Ets, bukan buat kuliah tapi. Hehehe. Saya akan berangkat ke Progo buat latihan masal rescuer sama atlet lomba. Nyampe disana, saya baru tau kalo turun sungainya abis makan siang. Aaah tau gitu masuk kuliah dulu tadi. Huh huh huh :(

Latihan selesai jam 4.30 PM, terus lanjut evaluasi. Mas Ichal yang koordinatornya rescue bilang kalo kita tim rescue ini tujuannya menolong, bukan pengarungan. Soalnya ada yang bablas turun padahal mestinya berhenti di Ancol. Tadinya kta juga pingin bablas, tapi untungnya ga jadi. Terus Mas Ichal juga menegaskan untuk rescuer yang mungkin skill-nya masih belum bisa untuk turun mending ga usah turun aja. Lucu kan jadinya kalo rescuer malah di rescue. Hihihi. Soalnya tadi juga ada yang begitu. He-who-cannot-be-named. Pulang jam 7, ngambil cucian foto, tidur jam 9. Gara-gara ketiduran cepet banget gitu susu yang udah saya bikin jadinya buat sarapan deh. Bangun pagi-pagi, langsung minum susu terus mandi. Ets, lagi-lagi ini bukan pergi kuliah, rescue benerannya hari ini. Lombanya hari ini. Wow, saya kelaparan!! Untung disediain sarapan sama panitian. Abis makan langsung turun, hari ini lombanya mulai jam 9, dan saya jaga di jeram selamat datang sama Kak Ilham, Mas Joned, Mas Mboi, Fahri, sama Bos Aceng. Lagi-lagi, he-who-cannot-be-named menjadi rescue-er (pelaku rescue apa sih bahasa inggrisnya?) yang di rescue, hehehe. Ga papa lah, biar ada kerjaan, ga nganggur-nganggur garing. Emang banyak waktu nganggur sih, tapi ga selama kemarin. Hari ini diisi sama bergosip, nyiksa Mas Joned, sama ngobrol saru. Hahaha. Bujuut ini pada bokep semua omongannya, saya yang cewek sendiri jadi ketularan deh jadinya :D Untuk lomba down river race hari ini yang paling keliatan niat pingin balapan cuma tim Indonesia aja, yang lainnya yaa fun rafting gitu. Wah di jeram selamat dateng ada yang kebalik perahunya, tim Kazakstan! Wow. Langsung melesat menolong. Degdegan juga ternyata di air yang lumayan lebih kecil dari yang kemarin bisa kebalik. Hati-hati ya mas-mas bule. Mas Nyoman dari Noars sempet masuk strong eddie yang ada di tebing di kanan. Akhirnya lepas spray deck dan kayaknya masih nyangkut di strong eddie tadi. Susah juga ngeluarinnya, tapi akhirnya bisa juga. Perahu saya up stream terus C turn ke tempat perahu nyangkut terus Mas Predi loncat ke kayaknya dan berhasil hanyutin ke bawah. Salut buat Mas Nyoman yang bisa nyelametin dirinya sendiri dan berusaha keras menyelamatkan kayakanya, dan dia juga ga papa, abis itu minggir ngerokok buat nenangin diri. Hihihi. Kalo yang ini jadi he-who-able-to-be-named. Apaan si ah. Setelah semua turun kita juga akhirnya turun. Di jeram tonggak (jeram berikutnya), he-who-cannot-be-named di rescue lagi! Aduuh. Yaudahlah, lain kali hati-hati ya.

Masuk jeram Budil (woooww) tanpa scouting soalnya ga bisa, abisnya sama tim Progo Adventure kita disuruh parkir kanan padahal titik scouting-nya jauh di kiri, mau nyebrang juga susah. Kita masuk ambil jalur kanan abis itu ke tengah, alhamdulillah lancaar. He-who-cannot-be-named? Beliau akhirnya minggir, naik, terus ke basecamp naik motor. Jeram-jeram berikutnya saya jadi latihan skipper didampingin Mas Mboi. Wahh rusak dah. Saya yang rusak maksudnya. Hahaha.

Juara lomba slalom perahu karet di Serayu di menangin sama tim Slovakia. Wah mereka emang mainnya bagus banget. Bersih. Tenang. Yahud lah. Tapi DRR di progo bawah mereka cuman nurunin 4 orang dalam satu perahu, kayanya si pingin nyantai-nyantai aja, ga mau buru-buru, saying juga udah dating jauh-jauh tapi mesti buru-buru. Untuk DRR juara pertamanya Riam Jeram, terus disusul sama Arus Liar. Wah selamat mas-mas. Ga salah ototnya pada gede-gede. Hahaha.

Acara selesai jam zuhur (jam berapa tuh?), terus dilanjutin evaluasi dan makan siang bareng, eh tapi saya ga makan siang deng, keabisan (menyedihkan bener). Abis itu pulang ke rumah masing-masing. Saya dan temen-temen mampir dulu ke rumah Mas Rosyid ambil alat, baru deh pulang. Cuci alat, pada males dan lemes katanya, tapi alat tetep dicuci. Saya emosi bener ngeliat ketua saya berasa bos besar. Dia tidur coba padahal lagi cuci alat. Terus dibangunin Mas Anta buat nurunin perahu dari mobil. Dan selanjutnya dia ga ngapa-ngapain. Dia ni ketua apa bos besar sih? Ga nyuci alat sama sekali, cuman main henpon hahahihi. Mompa perahu doang udah lemes. Terus pas nyuci perahu juga, ga mau bersihin nyuruh saya, lemes katanya. Tapi pas udah saya yang nyuci dia pergi aja gitu, bercanda-bercanda sama orang cekikik cekakak, bikin emosi beneran sumpah dah. Pas ngangkat perahu juga dia ga mau, alesan ini itu lah. Menyebalkan. Saya bilangin untuk bersikap sebagai ketua bukan sebagai bos besar, malah saya disuruh ngeliat diri sendiri kalo ngomong. Hey, kalo gitu cuma orang sempurna aja dong yang boleh ngasih masukan? Mungkin dia nyangkanya saya ngomong gitu ga suka sama dia yang nagih-nagih proposal yang saya bikin. Untuk ini saya emang salah, tapi saya bingung juga proposal disuruh ganti kontennya tapi ganti apaan ga tau, di oper kesana-kesini, adoooh. Tapi yang saya maksud ya hal-hal kecil yang terus jadi kebiasaan yang menyebalkan itu. Dari dulu kalo dikasih tau ngeyel, dikritik malah dibantah mulu, males juga lama-lama. Yah jadi kebawa emosi gini, padahal harusnya saya seneng besok udah bisa kuliah lagi. Yeaaay!

Well, saya pun ketika menulis ini masih berasa sedih soalnya mesti berpisah. I hate goodbye! Saya harus salaman mengucapkan “terima kasih ya” dan “hati-hati ya, sampe jumpa lagi”, ke temen-temen baru saya, Noars Rafting, Tirtaseta, Mas Lamba, yaa meskipun mereka jelas banget ga mungkin ngerasa kehilangan saya, tapi saya merasa kehilangan (meong). Saya seneng aja sama mereka, semua, yang saya tulis disini mau pun ga, saya suka mereka semua, penuh semangat, penuh kejayusan, macam-macam informasi, aduh kan, saya bener-bener benci berpisah. Tapi kita bakalan ketemu lagi, yeaah never give up!

Banyak banget yang saya dapet dari acara ini. Besar harapan saya untuk bisa ikutan lomba beginian sama tim sendiri. Mengetahui berbagai resep rahasia orang-orang hebat itu, cerita-cerita yang mungkin bisa ngalahin cerita dari berbagai buku motivasi best seller, soalnya ini di denger dari mulut orang itu sendiri yang mengalaminya sendiri. Mereka begitu tau apa yang mereka sukai, dan ngejalanin penuh totalitas. Saya berasa pecundang. Apa yang udah saya lakukaaaan? Ga ada prestasi apa-apa. Saya belajar banyak banget, bahkan yang organisasi ga bisa lakukan, tapi orang-orang ini bisa. Saya memang orang yang suka sekali di ayom, di bombing, padahal udah saatnya saya mandiri, ambil keputusan sendiri, bisa bikin orang lain juga termotivasi sama cerita pengalaman hidup saya. Widiiih, jadi gegayaan gini omongannya. Jangan percaya deh, saya orang yang biasa-biasa aja. Ga perlu diperhitungkan. Hahaha.

Yap, mengantuk sudah. Saya udah bikin susu dan akan saya minum sebagai pengganti makan malem. Besok ada keajaiban apa ya?