Showing posts with label main biar pinter. Show all posts
Showing posts with label main biar pinter. Show all posts

Tuesday, July 12, 2011

riverboard sejuta warna



Hore main river board lagi. Karena masih blo'on, untuk latihan hari ini cuma di tiga jeram di ulang-ulang bolak-balik. Yes! Menyenangkan!

Keliatan kaga gambarnya? Itu turun pertama, jeram pertama, dan saya kebalik yeh. Berhubung teknik nge-
roll saya masih acakadut, ya gini deh jadinya.

Ini juga di jeram pertama, percobaan ke tiga kayaknya. Lagi motong ke kiri. Ampun capeknyaa. Maklum kalo pake river board sudut yang diperluin buat motong lebih banyak dan tenaga yang juga lebih banyak daripada kalo lagi main pake perahu karet.


Jeram ke dua. Ini cuma dilewatin satu kali karena kalo ngulang yang susah up stream-nya. Hahaha. Portaging-nya sih bisa-bisa aja. Asik to the maaaaaax!

Jeram ringin. Sama kaya postingan river board yang kemarin-kemarin. Cuma yang ini airnya agak lebih tinggi. Yihaaaa!


Yang foto-fotoin saya. Kalo kalian merasa gambarnya kurang oke, mohon maklum karena yang foto komodo :p

mwah!

Ops. Multi Day Progo Atas Kandangan - Tempuran: Pengarungan tanpa Pengaman Suara

Siapa yang ga tau Kali Progo, angkat tangan! Oke. Kali Progo adalah sungai yang mengaliri Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang juga jadi batasnya Kabupaten Kulonprogo dengan Kabupaten Sleman dan Bantul. Sungai ini bersumber dari lereng Gunung Sumbing, jadi kalau gunung ini gelap maka tandanya Kali Progo akan banjir. Selama tiga hari tim air Palapsi akan berpetualang ke Kali Progo bagian atas (selanjutnya saya sebut Progo Atas) dengan start dari Kandangan sampe finish Tempuran.

Operasional multi day pertama kami di TC Java Adevnture ini menempatkan Yoga dan Desti sebagai pasangan pendayung depan, Anis dan Dyah di tengah, Reza dan Fahri di belakang, terakhir ada saya sebagai kapten. Lalu bagaimana operasional yang bertepatan dengan hari Paskah ini berjalan? Cekidots.


Jumat, 22 April 2011 – Sabda Pemulung Hujan

Pukul setengah tiga siang kami berangkat dari Terminal Jombor, Jogja, naik bus ke Pal Batang, Magelang. Keadaan bus sumpek tapi ga sampe sesak dan kami terpisah menjadi dua kubu, depan dan belakang. Dari Pal Batang kami naik mobil kol sewaan seharga Rp 82.000 terhitung dari Pal Batang sampe start Kandangan. Berbekal Oreo Blueberry dan keceriaan seadanya, kami menempuh dua setengah jam perjalanan yang –oh no, membosankan.


Mobil kol dan tempat kami kemping (Jembatan Tempuran, Temanggung)


Sampai di Kandangan, hujan sudah berjatuhan setitik demi setitik demi setitik setitik lagi, terus bertitik-titik. Selagi orientasi medan buat bangun tenda, kami mengintip sungainya. Wow! Oh no oh my! Banjir! Warnanya coklat banget kaya susu Milo! Reversal yang kebentuk kaya lahar dinginnya Merapi. Aduh ya ampun. Tapi mau panik ga jadi karena harus segera sibuk bangun tenda, dan saya yang saat ini lagi pegang pos konsumsi mulai masak nasi. Entah kenapa memasak nasi membuat saya menjadi lebih tenang setelah ngeliat sungai yang akan kami arungi besok kok banjir banget. Baiklah, terima kasih nasi.

Dua buah tenda flysheet udah berdiri, saya menguasai yang warna ungu untuk jadi dapur, dan yang merah buat taroh barang. Menu yang saya rancang malam ini adalah sayur kangkung bening sama nugget ayam goreng sumbangan dari Nana –makasi Na, kamu keren banget sumpah! Warga sekitar Kandangan baik-baik banget. Kami diajak ngobrol, ditanya macem-macem –meskipun lagi bangun tenda tetep dijawab dong, hehe. Kemudian Reza yang mengutuk pasak yang kami bawa akhirnya bisa lega karena seorang bapak datang tanpa dijemput meminjami kami pasak besar yang kokoh super. Keadaan tanah di tempat kami kemping agak keras, jadi memang butuh pasak yang besar.

Hujan masih terus berintik-rintik. Suara sungai masih berisik. Kami mulai makan malam. Selesai makan dapur diberesin dan mulai briefing. Desti si PO menjelaskan plan B ngarung ke Elo atas sampe Elo kalo-kalo besok pagi sungainya masih banjir, dan menjelaskan estimasi biaya kalo plan B itu dipake.

Memasuki acara bebas, masing-masing orang udah punya agenda. Ada yang solat, ada yang ke rumah penduduk untuk building rapport, ada yang di tenda aja ngobrol-ngobrol, ada juga yang main sama makhluk gaib. Desti dan Fahri berkunjung ke rumah warga yang paling deket sama tempat kemping kami, dia lah keluarga yang baik hati meminjamkan kami pasak. Nah setelah mereka balik ke tenda, tangan mereka menenteng satu nampan berisi gelas beling, satu teko berisi teh hangat, satu buah termos isi air panas, dan beberapa talas rebus. Ibu itu sangat senang melihat kami, para anak muda yang bersemangat, kemping di dekat rumahnya dan membawa suasana baru. Dia menawarkan banyak sekali bantuan, bahkan untuk menginap di rumahnya pun kami bisa –jika kami mau membuat mereka semakin kesempitan.


Sabtu, 23 April 2011 – Bintang Jatuh dan Malaikat Pengganggu

Desti membangunkan kami jam setengah lima pagi. Karena saya ga satu tenda sama dia, saya masih heran sampe sekarang kenapa dia bisa bangun sepagi itu. Kemudian saya bagi tugas masak: Anis masak tempe goreng tepung serbaguna, saya masak soto daging sapi rawon, dan Desti yang masak nasi. Yang lain bantu ngupas sama ngiris bawang, dan doa.

Sarapan super kami jadi tepat pukul setengah tujuh, saat sinar matahari begitu kerennya menyinari dari balik dedaunan yang tidak rapat, dan menimpa wajah kami yang kumel. Kemudian datang sosok jelek dengan motor, oh ternyata Aksan. Tepat sekali dia datang saat daging soto masih sisa satu dan saya memberikannya sebagai hadiah. Aksan datang bawa beras –saya memintanya karena kami salah takar beras dan akhirnya berasnya kurang, arem-arem, pisang goreng, sama risoles. Saya menyimpannya untuk snek pengarungan aja. Lalu pas saya balik dari rumah keluarga pemulung yang baik hati itu dari meminta air, saya melihat sebuah mobil sedan Honda klasik yang ternyata punya bapaknya Kiki. Dia dan bapaknya datang berkunjung dan menawarkan diri untuk mengunjungi kami di finish dengan (janji) sate ayam. Luar biasa sekali bukan? Sebelum membayangkan sate ayam, kami menikmati talas rebus super hangat dan enak pemberian ibu pemulung –sorry dorry I forgot the name. Pagi yang hebat.


Soto daging sapi rawon dan kokinya yang seksi


Aksan dan Kiki --ini bukan foto pre-wedding, tapi pre-pacaran. Hahaha.


Pemanasan, sip. Pake flip-line, sip. Briefing, sip. SO, sip. Lanjut portaging ke start point. Tas carrier kami iket di thwart belakang, sisanya di tengah. Cleaning dilakukan Desti, kemudian kami foto bersama. Setelah pamit sama warga sekitar, sama Kiki dan Aksan juga, pengarungan Progo Atas via Kandangan kami di mulai.


Stretching bermandikan sinar matahari pagi. Wohooo!


Kiri ke kanan: Yoga, Annis, Desti, Dyah, Fahri, Justin, Reza


Sungai Progo Atas memang punya view yang bagus, nah yang versi Kandangan ini punya pemandangan yang ga kalah bagus sama sungai-sungai di Bali. Sungai ga terlalu lebar, hanya sekitar dua perahu karet berjajar vertikal. Pemandangan tebing tinggi dan tanaman-tanaman yang menghiasinya, sawah, pohon kelapa, pohon bambu, wah seger banget pokoknya.

Arus yang cepat ga memungkinkan kami pemanasan up stream, jadilah langsung turun. Masuk jeram pertama, semua masih semangat. Seger banget emang yang namanya turun sungai pagi-pagi.

Karakteristik jeram Progo Atas Kandangan tu manuverable, banyak gradien dan bentukan yang unik. Ada jeram yang jalurnya di kiri, yang mengharuskan semua awak pendayung di kiri menunduk, malah mesti merunduk sampe bawah soalnya ada bentukan tebing yang kaya payung. Terus ada jeram yang jalurnya di kanan, masuknya mesti potong jauh. Sebenernya bisa lewat tengah, tapi yang kanan standing wave-nya asik banget. Yang paling saya suka adalah jeram Belok –I named it. Jadi jalurnya ada di kiri mentok, saya kira abis itu lurus eeh taunya langsung belok nikung tajem banget. Soalnya jeram yang ini agak lebar, tapi saya tidak tertipu. Hahaha. Karena permainan manuver kami masih belum bagus, masih banyak jeram yang ga kami lalui dengan cantik.


Salah satu jeram, ga tau namanya jeram apa, sebut saja Melati.


Misalnya jeram-abis-jeram-payung-yang-tadi-harus-merunduk. Setelah jeram itu ada jeram yang jalurnya di tengah, entrance-nya gate pillow-pillow, nah di tengah perjalanan kami malah kena pin ball effect karena depan perahu yang nyenggol pillow, terus perahu manuver ga cepet di bales, belok lagi, kepental lagi, gajah-makan-cincau-wah-kacau lah. Sungai ini panjangnya kira-kira 24 kilometer, dan DAM adalah salah satu yang saya amat sangat suka ngarung di Progo Atas Kandangan ini.

Sebuah DAM setinggi 3 meter dengan kemiringan 35 derajat, yang sebelumnya pernah saya turunin sama tim putri FAJY di pengarungan dua bulan yang lalu. Setelah scouting, kami bersiap menuruni DAM keren itu. Saya ambil jalur paling kiri karena saat itu airnya paling tebel di sebelah kiri, laluuuuuu... Tuing! Saya yang sebelumnya melakukan dayung counter pas di turunan saya kepental ke depan sampe terbang ke arah tengah dengan tangan dan kaki terbuka lebar seperti bintang. Dayungnya! Mana dayungnya! Ah ya Tuhan untung dia ga kenapa-kenapa. Ternyata dia terlepas pas saya menjelma jadi bintang jatuh tadi. Sayang sekali Reza ga mengabadikan momen absurb itu karena sequence mode-nya lambat akibat super fine mode yang juga ke-setting.


DAM!


Lanjut pengarungan berikutnya, jeram-jeram masih asik. Ada jeram sialan –disini saya kepeleset gara-gara drop miring menyebalkan, terus jeram oke punya –saya lupa yang mana, tapi sepertinya setiap jeram di Progo Atas Kandangan oke punya semua, terus ada juga jeram hening. Well, hampir di semua jeram kami mengaktifkan mode semi-silent. Suara berisik dan keceriaan bukan dateng dari pendayung depan atau pun pendayung tengah, melainkan dari belakang. Reza dan Fahri jadi motor keberisikan di operasional ini. Meskipun kadang mereka suka resek kaya tiba-tiba teriak “potong kiri!”, padahal saya udah ngarahin perahu ambil jalur kanan, eeh terus si Yoga malah tarik kiri dan perahunya jadi belok kiri, mereka juga jadi malaikat buat saya. Bayangkan apa jadinya perahu yang hening kaya kuburan, dan ga ada yang nemenin saya teriak-teriak? Mungkin setelah pengarungan saya akan dateng ke psikolog untuk diperiksa kesehatan mentalnya.


Justin dan dua pengganggu kesayangannya :p


Kadang si duo-rusuh itu emang nyebelin, di jeram teriak-teriak doang tapi ga dayung. Terus suka ganggu konsentrasi saya pas di jeram dengan obrolan-obrolan aneh yang tiba-tiba muncul d tengah jeram, yang bikin saya akhirnya salah ngatur perahu. Tapi sekali lagi, kalo ga ada mereka perahu yang saya kapteni ini bakalan bener-bener jadi kapal hantu.

Masuk jam satu, kami sampe di jembatan rusak dan jembatan baru, itu adalah titik finish. Pengarungan yang sangat panjang dan jeram yang begitu manuverable, membuat kami kelelahan dan air mineral kami hanya tersisa setengah liter. Melihat waktu yang masih sangat siang, 5 orang dari kami ingin melanjutkan pengarungan sampe ke jembatan Plikon, dan dua sisanya ingin pengarungan berhenti di sini, di Payaman, Kalisari. Akhirnya pengarungan berlanjut dan terlihat di depan ternyata ada DAM. Perahu minggir untuk scouting, dan keputusan melanjutkan pengarungan batal karena Desti melihat DAM di depan ga visible untuk di lewati dan kondisi awan yang mulai mengabu.

“Mba, menurutmu mending berenti aja apa terus?”.

“Lha, mau mu gimana?”,

“Mau ujan tu. Aku bingung”,

“Masa PO-nya bingung. Kalo berenti disini juga ga papa. Kalo kamu capek banget ya ga usah dipaksain. Mau ujan juga entar banjir gimana hii serem”,

“Iya. Gak papa kan ya, Mba?”,

“Iya gak papa. Sana ngomong sama Mas Reja”.


Keputusan pengarungan di stop dan dilanjutkan besok diamini oleh semua orang. Fahri scouting buat tempat kemping, yang perempuan beresin barang-barang yang di perahu. Pertama-tama semua barang-barang kecil kaya matras, daypack, dry bag, dayung, dan tetek bengek selain perahun di bawa ke sebuah lapangan tersembunyi di pinggir kiri jalan. Kemudian perahu di portaging. Hujan udah mulai turun, bukan hanya setitik, kali ini hujan langsung turun banyak. Butirannya kecil tapi jumlahnya milyar pangkat sejuta. Kami semua basah kuyup karena tenda belum sempat didirikan. Setelah agak terang, flysheet dikeluarkan dan biouvac didirikan. Lalu pasak yang kurus-kurus itu ternyata kurang yahud untuk mengganjal si flysheet sehingga dibutuhkan pasak alam. Dua flysheet itu didirikan menjadi satu jajar diantara jalur kubangan air yang udah terbentuk. Kodok-kodok bernyanyi, jangkrik-jangkrik meloncat girang ke atas flysheet, dan gerak pelan santai entah pasti atau nggak dari proses kami membangun tempat kemping –oke, beberapa dari kami, sejujurnya, kekekeke.

Pukul 3 sore hujan sudah reda, kembali sinar matahari menjadi sumber energi yang luar biasa, dan saya mulai mempersiapkan konsumsi. Menu makan sore ini adalah oseng jamur dan tahu kornet gelinding. Yang bikin tahu kornet gelinding si Dyah, Annis masak nasi, saya masak sayur oseng jamur, dan yang lain bantu potong-potong, iris-iris, dan (masih) doa. Untuk masak tahu kornet gelinding, 8 potong tahu putih dihaluskan dan dicampur kornet beserta beberapa bumbu –yang katanya bumbu yang akan membuat kamu bodoh, penyedap. Kemudian semua dihancurkan menjadi satu kesatuan yang abstrak kemudian dibentuk bulat-bulat dengan sendok. Gulung-gulung dalam kocokan sebutir telur, lalu goreng sampe warna kecoklatan. Saya di puji karena si gelinding ini rasanya enak sekali kaya takoyaki.

Selanjutnya sayur oseng jamur. Saya pake jamur tiram dengan irisan besar, dan bumbu dapur lain kaya bawang bombay, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe merah, gula, dan garam. Semua bawang dan cabe di tumis, lalu masukin jamur, terus tambahin air. Masak sampe mateng, lalu dibumbuin pake garem sama gula. Saya menambahkan sisa adonan tahu kornet tadi dan, lagi, saya di puji karena sayur ini memang enak sekali. Sisa tahu kornetnya banyak banget, ada kali setengah nesting. Itu buat bekal snek pengarungan besok, dimasakanya besok pagi aja.


makan di luar biar semriwiiings


Setelah garden dinner, kami evaluasi. Kalo saya rangkum per individu, evaluasinya adalah: Yoga kalo ambil jalur eksrtrim, padahal perahu udah ke kiri dan jalur kiri udah enak tinggal masuk sama dia malah tiba-tiba ambil kanan, komunikasi sama Destinya juga kurang, pemantapan jalur di pendayung depan mesti harus dibenahi lagi. Desti, komunikasinya jelek, main manuver-nya belum cepet, endurance-nya juga kurang dan ngaruh ke dayungannya, biasanya bagus kok sekarang malah jelek. Annis, wah ga ada suaranya, merasa tegang akhirnya ngaruh ke performanya, dayung standar masih belum ke bentuk, penyampaian komunikasi dari depan ke belakang atau sebaliknya ga ada. Dyah ga jauh beda sama Annis, tapi dia ga terlalu diem, masih ada suaranya tapi dayung standarnya juga belum ada kemajuan. Saya, di jeram-jeram besar atau dengan hole besar suka kepeleset –kuda-kudanya harus lebih mantep lagi, bales manuver-nya lebih gesit lagi, pemilihan jalur udah oke tapi kalo yang depan milih jalurnya salah kapten seharusnya langsung ambil alih jalur dengan on-sight yang juga lebih jauh ke depan. Evaluasi tim ini secara umum adalah: power dan komunikasi. Kalo dua itu ga kebentuk, mau berkembang lebih jauh lagi juga susah.

Dari awal bikin tenda sampe masak selesai, saya ga berhenti mengingatkan untuk mengabari Kiki kalo kita ada di Payaman. Yes saya sungguh menginginkan sate ayam! Sungguh! Evaluasi besar buat konsumsi adalah ga bawa makanan cadangan. Jadi jadwal masak malam ini yang cuma sekali udah dipake di sore tadi, dan malamnya saya yakin, kami pasti lapar. Jam 8 malam, sebungkus pelastik sate ayam datang! Oh Tuhan Kau sungguh luar biasa! Kiki mengantarkan 8 bungkus sate ayam lengkap dengan lontongnya, jadi masing-masing orang dapet satu porsi –isinya 10 tusuk sate dan satu bungkus lontong sepanjang buah terong. Kelebihan satu bungkus kami makan rame-rame. Rasa satenya sih biasa aja, tapi suasana makan bareng dalam satu tenda, saling berhadapan, berdekatan, penuh canda tawa, membuat sate itu terasa enak sekali. Tidur dalam kondisi kenyang adalah salah satu berkah yang wajib kita syukuri.


Minggu, 24 April 2011 – Hiatus

Kondisi air masih coklat tapi ga sampe kaya susu Milo. Lumayan gede, tapi masih aman diarungi. Kembali Desti membangunkan pukul 4.30, saat dimana kodok yang berkokok juga baru bangun. Pembagian tugas masak pagi ini: Desti masak nasi, Annis dan Yoga bikin tahu kornet gelinding terus di goreng sama Dyah, saya yang masak lauknya yaitu sarden tuna. Hanya satu kaleng besar dan satu kaleng kecil sarden, dimasak bersama tumisan bawang bombay, bawang putih, bawang merah, dan ikan tuna kalengan. Tambahkan garam sedikit dan rasanya, hmmm yummy! Semoga protein banyak ini bisa bikin kita tambah pinter khususnya pas lagi baca jeram.


Ada keluarga dengan anak kembar datang berkunjung.


Masak sarapan :)


Sarapan protein :)


Setelah sarapan jadi dan flysheet sebelah di buka buat tempat sarapan, kami makan bersama. Bekal buat snek udah selesai saya bikin, ada nasi, telur dadar, dan tahu kornet gelinding sebanyak 30 butir. Kemudian kami packing, dengan beberapa kerjaan tambahan. Yoga yang betulin lem-leman perahu yang lepas, saya packing konsumsi dan perkapnya, Annis ngelus-ngelus kakinya dengan minyak ajaib –ayo Annis cepet, jangan lama-lama ngobatin kakinya, Desti yang langsung siapin carrier dan packing baju-baju dibantu sama Dyah. Ritme dayung kami di perahu lambat, begitu juga kalo lagi kemping. Hahah! Setelah semua beres, perahu di portaging sama saya, Yoga, Desti, dan Annis ke pinggir sungai, sekitar sekilo dari DAM yang kemarin ga jadi kita lewatin. Lalu barang-barang yang kecil datang. Agak susah karena jalannya turunan terjal dengan media tanah lumayan licin dan batu-batu sebesar kepalan tangan. Saat semua barang udah turun, tas mulai di iket di perahu, lanjut sama barang-barang yang lain.

Pukul 9 kami berdoa bersama, berteriak “Never give up!”, dan pengarungan Progo Atas via Payaman sampe finish Progo Adventure di mulai.

Jeram antara Payaman sampe Plikon sangat membosankan. Sungainya lebar banget dan batu kecil jarang-jarang berjejer berantakan membentuk jeram. Arusnya cepat tapi dayungnya lambat, jadi ya kayanya perahunya maju murni karena main stream. Kan salah satu teknik manuver emang ngikutin main stream, hihihi. Perkiraan awal kami pengarungan ini akan memakan waktu 3 jam, tapi ternyata dalam waktu satu setengah jam kami udah sampe di jembatan Plikon. Lanjut pengarungan kami masuk jeram-setelah-jembatan-Plikon. Untuk Progo Atas via Plikon ini sungainya lebih lebar dikit dan jeramnya ga begitu kompleks kaya di Kandangan, tapi tetep manuverable. Terus jeramnya kebanyakan pas belokan jadinya main stream selalu ada di pojok-pojok. Di tengah perjalanan kami istirahat di pinggir pantai 500 meter dari jeram Little Budhil. Makanan ditaruh di atas daun pisang, dan kami duduk mengelilinginya untuk makan bersama.


Snek kentang (kenyang tanggung)


Pukul 12.00 kami lanjut pengarungan. Setelah 300 meter kami berhenti untuk scouting jeram Little Budhil. Jeram ini lumayan gede tapi asik. Kami akan masuk lewat gate pillow di sebelah kanan strainer, lalu masuk lurus karena di kiri batu ada drop besar banget. Abis itu lurus ambil kanannya batu gourdam tapi jangan ferrying kanan. Patokannya batu besar item itu kita pepet kanannya, jangan sampe kesasar kaya minggu lalu (ops!).

Yak scouting selesai. Yang lain berbincang-bincang lagi soal jeram dan jalurnya, saya ijin buang air. Apa? Buang air? He? Iya. Perut saya udah perih banget dan kalo masih saya tahan, entahlah apa yang akan terjadi sama saya di jeram Little Budhil nanti. Maafkan aku sungai, aku melanggar sumpahku untuk ga buang air di sungai, tapi ini udah gawat banget. Setelah tanya-tanya sama Fahri gimana posisi buang air yang bagus kalo di sungai, saya beraksi. Saya mentertawakan diri saya sendiri, ah tidak ini benar-benar konyol. Saya tidak akan pernah lagi menyia-nyiakan waktu kemping untuk numpang buang air di rumah penduduk. Maafkan aku sungai, huaaaa.


Aaaaaaaaah!


Balik ke perahu, Reja ga ikut ngarung buat ambil foto kita.

“Wah, Tin, adrenalinku naik nih. Jadi terpacu”, kata Fahri. Dia baru pertama kali ngarung Progo Atas jadi merasa sangat bersemangat.

“Keren kan? Aku yo deg-degan eh. Itu airnya gede begitu hii”, jawab saya.

“Yang penting power-nya keluar, sama dijagain sudutnya biar lurus-lurus aja”.

“Siap!”

Semua udah siap? Oke yuk turun. Entrance lancar, masuk ke sebelah kiri batu besar pertama ada hole gede banget, masuknya agak ferrying kanan karena emang mau potong kanan setelahnya. Lalu perahu di luruskan maju ada hole besar lagi. Saya deg-degan banget pas ini soalnya power-nya kecil banget bikin perahunya agak standing dan saya ada di bawah! Gyaaaa! Lanjut kami bisa ambil kanannya batu gourdam, tapi abis itu agak kebawa kanan dikit. Masih bisa potong kiri lanjut maju. Di finish ada standing wave gede banget di sikat lurus terus langsung belok kanan mau parkir dan jemput Reza.

WOH! DAHSYAT!

Foto kami pas lagi lewat jeram ini akan saya kirim ke bagian publikasi dan dokumentasi Java Adventure, semoga bisa menang dan operasional besok bisa gratis.


yah, ko digedein malah pecah gambarnya?


Tapi kok pada diem-diem aja ini orang-orang? Pas di jeram saya cuman denger suaranya Fahri, saya kira yang lain pada jatuh soalnya ga ada suaranya. Ternyata masih di perahu.

Lanjut pengarungan. Ke jeram pabrik jembatan. Bukan pabrik pembuat jembatan, tapi ada pabrik di sebelah jembatan. Masuk agak manuver dari gate sempit ke arah kanan terus langsung belok kiri. Masuk main stream tapi agak ferrying kanan buat cicil potong. Lanjut ke jeram Rock n’ Roll, salah satu yang plaing besar di Progo Atas. Kami berhenti untuk scouting do sebelah kiri, sekiatar 10 meter dari mulut jeram. Ah saya benci scouting disini, bau! Kalian tau, di atas tebingan tempat kita scouting adalah limbah tinja yang udah membusuk. Di pinggir jalan tempat scouting juga ada limbah serupa. Huek baunya! Udah kepilih jalurnya saya langsung cepet-cepet balik. Kami masuk lewat tongue besar dan mengalir mengikuti standing wave yang keren-keren di sepanjang aliran arus utama.

“Ehh lho kok ada batu?”

Saya berkata datar. Kami lost satu scouting-an soal batu di ujung jeram. Lumayan gede tapi dari scouting tu keliatannya kaya standing wave biasa. Langsung tancap belok kirinya dan perahu kesenggol deh. Hiks. Lanjut lagi pengarungan ke jeram gigi, terus jeram pillow loncat—saya pernah ke pental loncat tinggi gara-gara Desti tiba-tiba tarik kanan padahal kita udah kirinya persis pillow bulet sempurna dan saya meloncat dan mendarat sambil duduk (bodoh super -__________-“), dan jeram-jeram lainnya. Ga jauh berbeda sama kemarin, pengarungan hari ini komunikasinya buruk. Perahu ini ga terlihat excited mengarungi jeram-jeram yang riuh cantik. Ah sayang banget padahal bantingan operasional ini mahal banget, kalo ga di isi seneng-seneng rugi rasanya.



Sampe di finish tepat pukul 1 siang, lalu saya, Yoga, dan Desti portaging perahu ke atas. Yang lainnya bawa barang-barang yang banyak itu. Sampe di gubukan Progo Adventure, perahu di lipat dan peralatan pengarungan di packing. Kegiatan packing di tutup dengan melihat Yoga, Desti, Reza, dan Dyah push up buat bayar alat-alat yang lalai mereka jaga.

Menuju ke pinggir jalan, kami memberhentikan bus umum yang menuju ke terminal Magelang. Sampe di terminal kami pindah bus yang mengarah ke Jombor. Sekitar pukul setengah empat kami sampe di Jogja dan langsung pulang ke kampus. Semua alat di cuci bersih dan dijemur. West point terluka di bagian floor-nya. Sekat penghubung floor kiri depan dengan tabungnya lepas, jadi besok sampe waktu yang ga bisa ditentukan dia akan nginep di boogie untuk diperbaiki. Cepat sembuh WP, maaf ya aku jadi kapten yang menyakitimu kemarin dan hari ini.

Oke teman-teman, itu lah cerita operasional multi day kami. Masih ada agenda post-operasional yaitu evaluasi di hari Senin dan storing alat. Semoga kami belajar banyak dari simulasi I TC Java Adventure ini. NGU!

riverboard empat panel


Selain rafting, yang jadi heaven-on-earth kalo lagi main di sungai adalah:


woohoooooooooooo!


australasian on the go

Selasa malam. Haaah. Capek mujarab. Seminggu dari tanggal 20 - 23 April saya main ke Serayu. Lengkap sudah seminggu gak kuliah sama sekali soalnya Senin kan main ke progo bawah. Tambah dua hari kemaren sama hari ini, semoga saya masih bisa ikut UAS ntar. Sabtu jam 10 pagi saya baru nyampe setelah berangkat pulang dari Serayu Adventure jam 6 pagi. Pinginnya ikut acara nanem pohon di Krapyak, tapi ternyata nyampe Jogjanya siang banget, sedangkan sweeper berangkat jam 7 di tambah saya juga ga tau dimana itu Krapyak, jadinya ga jadi ngikut. Siangnya cuci alat sekalian setor muka. Kangen bener orang-orang sama saya, hahaha. Saya yang super kangen sama mereka. Sorenya latihan dayung di Selokan sampe jam 7 PM, pulang kost langsung tepar.


Penikmat


Sedih banget mesti pulang hari Sabtu padahal lomba rafting-nya baru hari Sabtu sama besok. Susah emang kalo pake mobil pinjeman. Tapi tujuan saya dateng kesana sih selain pingin tambah kenalan dari segala macem penjuru, ketemu orang-orang ajaib, ngeliat lomba arung jeram, saya juga pingin liat kayak -entah eksibisinya, entah atletnya, entah kayaknya-. Sebenernya itu tujuan utamanya, kayak! Dan saya berhasil. Hehehe.I met a lot of awesome kayakers, they were great. I'm an adorer of kayak and kayakers. Selain menangis dalam hati menyesal dulu nyerah main kayak (sial sial siaaall), saya selalu memasang wajah sumringah setiap ketemu kayaker atau ngeliat orang-orang hebat itu main kayak. Sampe-sampe setiap saya lagi merhatiin para kayaker itu beratraksi di sungai dengan muka kaya anak TK dapet gambar bintang di kertas gambarnya, Mas Lamba selalu melambaikan tangannya dadah dadah gitu. Wah ada yang nyadar saya liatin, padahal saya ngeliatin semua kayakernya. Hehehe. Ayo semua kayaker, lambaikan tangan kalian kepadakuuu! :p


Nah, ini mereka, beberapa.


Meskipun namanya Australasian Rafting Champs, buat saya tetep eksibisi kayak yang paling keren. Hehehe. Hari pertama saya langsung ketemu Tirtaseta, sebuah komunitas kayak yang juga punya sekolah kayak. Yang paling saya tunggu-tunggu adalah ketemu Mas Toto, pemilik Tirtaseta. Yeah saya adalah penggemar berat Mas Toto.


Kenapa saya harus memajang foto Mas Toto ya?

Kenalan juga sama temen-temen dari Noars. Mereka operatornya sungai Pekalen loh, kalo mau ke sungai Pekalen bisa hubungi mereka buat tanya-tanya: Mas Nyoman 081336616400 atau 081358932287 (nomer istrinya). Ketemu juga tim Malaysia, Mas Nasir sama Mas Fitri, tim Iran, terus ada akang-akang dari Indonesia Riverboarding Association (ada yang mirip Jimi The Upstairs! Namanya Kang Dukut - ngasih saya kenang-kenangan pin loh :D ), terus ada kayaker-kayaker lama juga kaya Mas Agus Lamba, Mr. Halim, Pak Loddi, Mas Made Brown, dan sebagainya. Eh ada kayaker muda asal California yang sekarang sekolah di Bali loh, ada 3. Sepasang kakak adik namanya Dillon dan Japhy (sebelum tau itu nama bule, panitia dengan toa memanggilnya Japi. Hahaha), dan seorang yang ganteng (campuran cina dikit) namanya Tristan. Bening-bening beneeeer :D


Bebek, kayaker dari Palapsi. ga menang apa-apa, haha :p

Eksibisi kayak ini tujuannya adalah untuk mempertemukan kayaker-kayaker dari berbagai penjuru, sebagai event reuni juga. Terus mau memperkenalan juga ke masyarakat bahwa ada kayak lho di Indonesia. Well, kayak emang belum umum di sini, tapi dengan ngeliat adanya event kaya gini dimana kayaker ngumpul-ngumpul, kita juga jadi tau ternyata kayaker Indonesia tambah banyaak. Saya semakin semakin semakin seneng. Makanya pas Mas Toto minta saya jadi panitia buat eksibisi kayak, saya ga nolak sama sekali. Hehehe.



Saya terus memperhatikan kayak, yang turun sungai khususnya. Saya ngeliat dayung majunya Mas Toto dan temen-temen Tirtaseta yang lain. Gimana mereka bertahan di arus, free styling, kayaker-kayaker yang lain juga, mereka punya keunikan masing-masing. Susah kalo di tulisin. Hahaha. Eksibisi kayak di hari Kamis (yaa bisa dibilang lomba juga sih) punya 3 kriteria yang di nilai, yaitu launching-ngeluncur dari papan setinggi 3 meter,surfing-up stream dan terus bertahan di atas riversal, dan sprint-balepan cepet-cepetan. Pas launching, semua nunjukin gayanya masing-masing, bahkan ada juga yang gayanya standar gitu-gitu aja. Ada Mas Sigit yang pake ngelempar dayung, ada Mr. Halim, Om George, sama Haidar Iran yang ngeluncurnya mundur, Mas Denny dan Mas Made yang pingin muter pas jatoh tapi ga jadi, terus si Japhy (baca yang bener: Jafi) yang jatoh terus agakstanding, yaa macem-macemlah. Tapi si Tristan ga ikutan launching sama surfing, dia sakit. Huhu, sini sayang saya pijitin pake jurus maut, kekekeke. Preeek!

Untuk surfing, abang-abang dari Iran bertahan paling lama. Si Aria sampe 30 detikan, si Haidar malah sampe 40 detikan, busyeeet. Abis itu sprint. Seruu, mereka dayung cepet banget. Untuk yang pake kayak jenis creek, jelas ngerasa gembira tralalala. Hihihi. Karena ini eksebisi, dan yaa seperti yang saya bilang di awal tadi, event kayak ini terlihat sangat friendly. Seru. Setiap kayaker saling mengenal, menyapa, bertukar informasi, bertukar ilmu, bertukar-tukar apapun lah. Yang juara di kayak untuk sprint sama surfing di pegang abang-abang dari Iran. Si Haidar di posisi pertama, Aria kedua. Juara tiga untuk sprint di pegang Mas Abu, di surfing di pegang Mas Supri Noars. Tuh kaan, yang menang yang kayaknya jeniscreek, yang tipe play boat pada susah mau maju cepet. Tapi Mas Toto pulang bawa piala runner up, itu saya ga tau runner up yang mana, tapi pialanya keren. Wayang yang megang dayung adalah ide yang luar biasa. Sebelum kayak, ada lomba riverboarding. Ini juga menarik, sangat!

Ini pertama kalinya saya ketemu, kenalan, dan ngeliat atlet riverboard main di sungai. Sangaaaat kereeen!! Gaya mereka loncat ke air beneran mirip kodok lagi loncat, apalagi pada pake sepatu katak. Tapi mukanya ga ikutan mirip katak tenang aja. Tim Noars, Mas Buaya sama Mas Nyoman, berhasil bawa pulang medali emas sama perunggu, waaaw. Saya sempet mengalungi dua medali keren itu selama beberapa menit. Ah rasanyaa, seperti pecundang :D Wong saya main riverboard aja ga pernah, ini sok-sokan ngalungin medalinya. Hihihi. Congrats yoo mameeen!

Pemain sendal raksasa

Akang-akang dari IRA juga keren. Mereka tu awalnya pemanjat, suka bikin wall climbing juga. Sekarang lagi beralih main riverboard, katanya sih faktor U (usia, haha). Nah mereka jugariverboard-nya bikin sendiri, keren ya. Kang Dukut nawarin kita bahan-bahan buat bikinriverboard, jadi ntar kita tinggal bayar yang bikinin. Asiik. Kita tagih janjinya secepatnya. Hehehe. Itu akang-akang orang Bandung seru-seru deh. Kita juga diajakin main ke Citarik, wow. Banyak janji yang harus ditagih ni. Mantaap! Yang masuk urutan juara buat lomba main sendal raksasa ini ni Mas Buaya, anak Kapinis, Mas Nyoman, Mas Tapir (mukanya mirip suaminya Titi DJ loh), Mas Jabrik, sama Mas Wahyu. Yeaah congrats!!!

Saya :)

Selamaaat. Untuk Riam Jeram katanya menang head to head. Yaa meskipun ada adegan misuh-misuhan sama tim Slovakia, tetep ah keren ni abang-abang mah. Indonesia Raya, Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya!

Hari Minggu saya latihan di sungai Elo. Hari ini adalah Kartini Raft yeeeay. Satu perahu biru, lima perempuan berbaju biru, semangat biru, langit biru, gigi biru, mata biru, berle biru. Hahaha. Posisi perahunya saya yang jadi skipper, pendayung tengah Ambon sama Dyan, pendayung depannya Desti sama Cela, tim rescue-nya para Kartono berempat. Wuah saya kagok banget bawa perahu, udah lama banget saya ga latihan skipper, selalu di pendayung depan. Namanya juga sekarang latihan, jadi banyak jatuh bangunnya. Pendayung depannya yang anak baru semua bikin saya juga dapet manfaat latihan banyaaak banget. Dinamika di perahu awalnya seret, tapi masuk jeram sebelum ringin dinamikanya udah terlihat asik. Abis scouting yang menghasilan keputusan ambil jalur tengah masuk gate terus masuk drop lurus ambil standing wave gede lurus juga, kita turun. Wuah degdegan sumpaaah. Alhamdulillah lancar. Debit air agak tinggi, tapi masih normal. Ketemu sama anak Silvagama juga yang lagi latihan, haloo teman-teman. Pengarungan lancar. Eh yang paling seru, di jeram finish! Hahaha. Saya memutuskan untuk main rodeo. Eeh gara-gara saya masukin perahu ke drop agak miring (ga keliatan eeh), jadinya perahunya berdiri dan kita jatoh semua. Hahaha. Lucu. Seruu. Ngeliat Ambon panik sambil mbetulin sendal. Well, I know it was a big mistake, but saw my paddlers enjoy and feels like "huaa hahaha" its okay maybe. They got a new experience, aren't they? Pulang dengan meninggalkan satu perahu plus dayung, pelampung, sama helm di tempat Mas Rosyid buat dipake besok rescue di Progo, cuci alat, makan malem - I had dinner with only one doughnut, waks!, terus evaluasi, pulang, tiduur. Senin, bangun pagi, nge-SMS dua orang teman yang ulang tahun sama kakak saya juga ulang tahu, mandi, nonton Insert, terus berangkat ke kampus. Ets, bukan buat kuliah tapi. Hehehe. Saya akan berangkat ke Progo buat latihan masal rescuer sama atlet lomba. Nyampe disana, saya baru tau kalo turun sungainya abis makan siang. Aaah tau gitu masuk kuliah dulu tadi. Huh huh huh :(

Latihan selesai jam 4.30 PM, terus lanjut evaluasi. Mas Ichal yang koordinatornya rescue bilang kalo kita tim rescue ini tujuannya menolong, bukan pengarungan. Soalnya ada yang bablas turun padahal mestinya berhenti di Ancol. Tadinya kta juga pingin bablas, tapi untungnya ga jadi. Terus Mas Ichal juga menegaskan untuk rescuer yang mungkin skill-nya masih belum bisa untuk turun mending ga usah turun aja. Lucu kan jadinya kalo rescuer malah di rescue. Hihihi. Soalnya tadi juga ada yang begitu. He-who-cannot-be-named. Pulang jam 7, ngambil cucian foto, tidur jam 9. Gara-gara ketiduran cepet banget gitu susu yang udah saya bikin jadinya buat sarapan deh. Bangun pagi-pagi, langsung minum susu terus mandi. Ets, lagi-lagi ini bukan pergi kuliah, rescue benerannya hari ini. Lombanya hari ini. Wow, saya kelaparan!! Untung disediain sarapan sama panitian. Abis makan langsung turun, hari ini lombanya mulai jam 9, dan saya jaga di jeram selamat datang sama Kak Ilham, Mas Joned, Mas Mboi, Fahri, sama Bos Aceng. Lagi-lagi, he-who-cannot-be-named menjadi rescue-er (pelaku rescue apa sih bahasa inggrisnya?) yang di rescue, hehehe. Ga papa lah, biar ada kerjaan, ga nganggur-nganggur garing. Emang banyak waktu nganggur sih, tapi ga selama kemarin. Hari ini diisi sama bergosip, nyiksa Mas Joned, sama ngobrol saru. Hahaha. Bujuut ini pada bokep semua omongannya, saya yang cewek sendiri jadi ketularan deh jadinya :D Untuk lomba down river race hari ini yang paling keliatan niat pingin balapan cuma tim Indonesia aja, yang lainnya yaa fun rafting gitu. Wah di jeram selamat dateng ada yang kebalik perahunya, tim Kazakstan! Wow. Langsung melesat menolong. Degdegan juga ternyata di air yang lumayan lebih kecil dari yang kemarin bisa kebalik. Hati-hati ya mas-mas bule. Mas Nyoman dari Noars sempet masuk strong eddie yang ada di tebing di kanan. Akhirnya lepas spray deck dan kayaknya masih nyangkut di strong eddie tadi. Susah juga ngeluarinnya, tapi akhirnya bisa juga. Perahu saya up stream terus C turn ke tempat perahu nyangkut terus Mas Predi loncat ke kayaknya dan berhasil hanyutin ke bawah. Salut buat Mas Nyoman yang bisa nyelametin dirinya sendiri dan berusaha keras menyelamatkan kayakanya, dan dia juga ga papa, abis itu minggir ngerokok buat nenangin diri. Hihihi. Kalo yang ini jadi he-who-able-to-be-named. Apaan si ah. Setelah semua turun kita juga akhirnya turun. Di jeram tonggak (jeram berikutnya), he-who-cannot-be-named di rescue lagi! Aduuh. Yaudahlah, lain kali hati-hati ya.

Masuk jeram Budil (woooww) tanpa scouting soalnya ga bisa, abisnya sama tim Progo Adventure kita disuruh parkir kanan padahal titik scouting-nya jauh di kiri, mau nyebrang juga susah. Kita masuk ambil jalur kanan abis itu ke tengah, alhamdulillah lancaar. He-who-cannot-be-named? Beliau akhirnya minggir, naik, terus ke basecamp naik motor. Jeram-jeram berikutnya saya jadi latihan skipper didampingin Mas Mboi. Wahh rusak dah. Saya yang rusak maksudnya. Hahaha.

Juara lomba slalom perahu karet di Serayu di menangin sama tim Slovakia. Wah mereka emang mainnya bagus banget. Bersih. Tenang. Yahud lah. Tapi DRR di progo bawah mereka cuman nurunin 4 orang dalam satu perahu, kayanya si pingin nyantai-nyantai aja, ga mau buru-buru, saying juga udah dating jauh-jauh tapi mesti buru-buru. Untuk DRR juara pertamanya Riam Jeram, terus disusul sama Arus Liar. Wah selamat mas-mas. Ga salah ototnya pada gede-gede. Hahaha.

Acara selesai jam zuhur (jam berapa tuh?), terus dilanjutin evaluasi dan makan siang bareng, eh tapi saya ga makan siang deng, keabisan (menyedihkan bener). Abis itu pulang ke rumah masing-masing. Saya dan temen-temen mampir dulu ke rumah Mas Rosyid ambil alat, baru deh pulang. Cuci alat, pada males dan lemes katanya, tapi alat tetep dicuci. Saya emosi bener ngeliat ketua saya berasa bos besar. Dia tidur coba padahal lagi cuci alat. Terus dibangunin Mas Anta buat nurunin perahu dari mobil. Dan selanjutnya dia ga ngapa-ngapain. Dia ni ketua apa bos besar sih? Ga nyuci alat sama sekali, cuman main henpon hahahihi. Mompa perahu doang udah lemes. Terus pas nyuci perahu juga, ga mau bersihin nyuruh saya, lemes katanya. Tapi pas udah saya yang nyuci dia pergi aja gitu, bercanda-bercanda sama orang cekikik cekakak, bikin emosi beneran sumpah dah. Pas ngangkat perahu juga dia ga mau, alesan ini itu lah. Menyebalkan. Saya bilangin untuk bersikap sebagai ketua bukan sebagai bos besar, malah saya disuruh ngeliat diri sendiri kalo ngomong. Hey, kalo gitu cuma orang sempurna aja dong yang boleh ngasih masukan? Mungkin dia nyangkanya saya ngomong gitu ga suka sama dia yang nagih-nagih proposal yang saya bikin. Untuk ini saya emang salah, tapi saya bingung juga proposal disuruh ganti kontennya tapi ganti apaan ga tau, di oper kesana-kesini, adoooh. Tapi yang saya maksud ya hal-hal kecil yang terus jadi kebiasaan yang menyebalkan itu. Dari dulu kalo dikasih tau ngeyel, dikritik malah dibantah mulu, males juga lama-lama. Yah jadi kebawa emosi gini, padahal harusnya saya seneng besok udah bisa kuliah lagi. Yeaaay!

Well, saya pun ketika menulis ini masih berasa sedih soalnya mesti berpisah. I hate goodbye! Saya harus salaman mengucapkan “terima kasih ya” dan “hati-hati ya, sampe jumpa lagi”, ke temen-temen baru saya, Noars Rafting, Tirtaseta, Mas Lamba, yaa meskipun mereka jelas banget ga mungkin ngerasa kehilangan saya, tapi saya merasa kehilangan (meong). Saya seneng aja sama mereka, semua, yang saya tulis disini mau pun ga, saya suka mereka semua, penuh semangat, penuh kejayusan, macam-macam informasi, aduh kan, saya bener-bener benci berpisah. Tapi kita bakalan ketemu lagi, yeaah never give up!

Banyak banget yang saya dapet dari acara ini. Besar harapan saya untuk bisa ikutan lomba beginian sama tim sendiri. Mengetahui berbagai resep rahasia orang-orang hebat itu, cerita-cerita yang mungkin bisa ngalahin cerita dari berbagai buku motivasi best seller, soalnya ini di denger dari mulut orang itu sendiri yang mengalaminya sendiri. Mereka begitu tau apa yang mereka sukai, dan ngejalanin penuh totalitas. Saya berasa pecundang. Apa yang udah saya lakukaaaan? Ga ada prestasi apa-apa. Saya belajar banyak banget, bahkan yang organisasi ga bisa lakukan, tapi orang-orang ini bisa. Saya memang orang yang suka sekali di ayom, di bombing, padahal udah saatnya saya mandiri, ambil keputusan sendiri, bisa bikin orang lain juga termotivasi sama cerita pengalaman hidup saya. Widiiih, jadi gegayaan gini omongannya. Jangan percaya deh, saya orang yang biasa-biasa aja. Ga perlu diperhitungkan. Hahaha.

Yap, mengantuk sudah. Saya udah bikin susu dan akan saya minum sebagai pengganti makan malem. Besok ada keajaiban apa ya?