Monday, July 25, 2011

Sungai Lematang: Sungai yang Diberkati Matahari Sepanjang Hari

Perkenalan singkat saya dengan orang-orang Pagar Alam Rafting ga menyulut keinginan saya untuk ngarung sungai di kota kecil nan sejuk di Sumatra Selatan ini. Jumat sore saya menghubungi Bang Herry sebagai CP di brosur Pagar Alam Rafting, niatan untuk ngarung Sungai Manna sudah menggebu dan saya pun mengadu ke orang itu. Kabar buruknya bahwa Pagar Alam Rafting, selanjutnya akan saya tulis dengan PAR (baca: biar ga capek ngetiknya), ternyata udah off untuk arung jeram soalnya udah mau masuk bulan puasa.

"Yaaaaaaahhh, sayang banget ah"

Begitu aja balasan SMS saya untuk kabar menyebalkan itu. Gimana nggak? Sungai Manna udah masuk to do list saya sejaaaaak packing di Jogja. Bahkan saya udah browsing segala hal tentang sungai yang pernah jadi tempat ekspedisi tim Mapala UI beberapa waktu silam. Eh, ternyata ada kabar baiknya. Mereka mau fun rafting di Sungai Lematang, di Lahat! OH DEMI DEWA DEWI SEGALA AGAMA! FUN RAFTING! Ikuuuuuut!

Malam harinya saya ketemu mereka: Bang Herry, Bang Ujuk, Bang Anto, dan Bang Jati. Di jemput dengan mobil Mitsubishi Kuda biru, kami pergi ke gudang perahu di Gunung Gare. Kami berbincang banyak hal, termasuk status saya yang penggiat dan seorang mapala yang suka ngarung. Jadilah obrolan kami lancar kaya jalur kereta api. Umur PAR baru dua tahun, tapi kegiatan arung jeram si abang-abang ini udah lamaaa sejak tahun 2000-an. Adalah seorang bapak yang udah almarhum alumni UII Yogyakarta yang memperkenalkan olah raga asyik ini ke mereka. Lalu mulai lah kegiatan ini diminati tapi cuma sama beberapa orang aja.

Setelah ke gudang perahu, kami jalan-jalan ke Tangga 2001, ngeliat kota Pagar Alam di malam hari. Sekali lagi, DEMI DEWA DEWI SEGALA AGAMA, saya seolah melihat bintang di bawah kaki. Keren! Pemandangan kota di malam hari, lalu dinikmati dari ketinggian, salah satu nikmat surga yang bisa dirasakan di bumi. Lebay ya? Gapapa ah. Emang bagus kok. Perjalanan lanjut ke kafenya Bang Herry di kota. Kami duduk dalam lingkarang di ruangan yang redup, makan cempedak, saya minum teh, dan sisanya minum anggur -oke, miras. Pulang pukul 12 malam. Saya tidur dengan senyum lebar karena tau besok saya akan kembali memakai pelampung dan bermain air di sungai.

Sabtu, 23 Juli 2011.
*Sayang, aku jadinya ngarung sendiri nih. Payah tu anak-anak ga ada yang mau ikut. Gapapa ya? Ntar pulangnya agak malem soalnya mau nonton konser Iwan Fals juga. Kalo kemaleman aku pulang pagi aja sekalian ya. Ga usah kawatir. Oke!"
Perjalanan saya ke kota Lahat, di mulai.
Duduk di depan mobil pick up butut punya Bang Herry, dengan peralatan ngarung udah duduk rapih di belakang bersama dengan abang-abang lain, kami berangkat. Sebagai supir siang itu, Bang Awan melakukan tugasnya dengan tidak cukup baik. Banyak lubang jalan yang dihantam lurus sama dia, anjing juga ada yang nyaris rest (not) in peace gara-gara dalemnya gas yang dia injek, haaa saya degdegan. Tapi berhubung dia emang udah fasih sama mobil itu, saya akhirnya bisa tenang, dan ketiduran.

Sekitar dua jam perjalanan, kami sampe di start sungai Lematang pukul setengah 3 sore. Bertemu dengan mahasiswa yang juga mau ikutan fun rafting lalu bersiap. Tiga buah perahu merah ber-thwarts dua merek Protect di pompa tangan, pelampung dikenakan, helm udah klik, lalu briefing. Saya kebagian di tim 3 dengan 4 orang mahasiswa, saya, Bang Anto dan Bang Wandit jadi skipper-nya. Sebenernya ini perahunya overload, tapi berhubung dua perahu sisanya bocor jadi mau ga mau deh.

Halo Sungai Lematang :)
tu bi tukinyuts